• Home
  • School
  • Writing
    • Fiction
      • SasuSaku Fanfiction
  • Girl Things
    • Fashion
    • Beauty
  • Travel
  • Portopholios
    • Photography
    • Design
facebook instagram twitter youtube

Creatifina


"krsk...krsk"
Suara gaduh dan saling dorong menghiasi pagi suramku, aku berdiri (mencoba untuk tetap) tegak di tengah himpitan mahasiswa lain. Kami sedang berbaris memasuki ruang dosen PA masing-masing untuk konsultasi KRS.
Terkutuklah sistem bodoh di fakultas ini, kenapa pula KRS nya manual gini kan capek. Akhirnya giliranku untuk masuk ke ruang para dosen, ah aku jadi ingat beberapa hari lalu bertemu berandal tampan di depan ruang dosen PAku, tapi saat ini bukan itu yang penting.
Share
Tweet
Pin
Share
2 comment
          

          By Fina Sarah Adhari
Naruto ©Masashi Kishimoto
SasuSaku’s Pairing

(Just a short fic)

WARNING: ABAL, GAJE, OOC.

“Prang.. Prangg… Prang…”
Beberapa suara pecahan beling terdengar dari arah dapur, seisi rumah panik kecuali sang gadis yang menjadi biang keroknya.
“Ya ampun, apa yang kau lakukan Sakura? Mengapa kau memecahkan piring? Mahal tahu!” Haruno Mebuki agak membentak dan berkacak pinggang melihat kekacauan yang telah diperbuat putrinya.
“Hmm… Hhhhh…..” bukannya mendapat jawaban, yang ditanya malah masih berdiri terpaku di hadapan piring-piring malang sambil menghela nafas keras.
“Kau kenapa nak?” kali ini sang ayahlah yang bersuara.
“Alah… paling juga lagi dicuekin sama gebetannya.” Kakak cantiknya tiba-tiba berkomentar.
PRANG.
“Awas kau Sasonii!!!” hampir saja piring malang itu pecah di kepala batu Sasori yang tak lain dan tak bukan adalah kakak si pembuat onar ini, Haruno Sakura.
“Huh!” tanpa ambil pusing dengan keonarannya, Sakura langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya, tak lupa  ia membanting pintu kamar ketika sudah di dalam, ciri khas perempuan saat marah.







Sakura bergerak gelisah di atas kasur queen sizenya, ia terus saja berguling-guling sambil membuka tutup handphonenya, sudah dua hari ia menunggu pesan singkat dari calon pacarnya, namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kehidupan dari celon pacar kesayangannya itu. Tunggu dulu, apa tadi aku menulis dua hari? DUA hari? Dua HARI? DUA HARI? “TIDAAAAKKKKK!!!!!” teriakan Sakura terdengar sampai ke Amerika, Jerman, dan beberapa Negara lainnya, sampai-sampai banyak yang mengira bahwa itu adalah tiupan terompet sangkakala  malaikat Isrofil.
Secepat kilat Sakura menghubungi sahabat karibnya yang bernama  Yamanaka Ino untuk datang ke rumahnya, ialah yang paling berpengalaman soal cinta, bahkan di umurnya yang baru menginjak enam belas tahun ia sudah yakin akan berkomitmen dengan kekasihnya yang bernama Nara Shikamaru.







“Sakura, I’m here, open the door please.” Ujar Ino sambil mengetuk pintu.
“Buka saja pig, aku tidak menguncinya!” suara dari dalam terdengar sangat keras, hamper saja memcahkan gendang telinga Ino.
“Tumben.” Timpal Ino dengan suara kecil.
“Apa kau membawa makanan?” Tanya Sakura saat melihat Ino yang sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, ia terlihat membawa sebuah plastik putih besar.
“Ya, seperti itulah.” Jawab Ino seadanya sambil memutar matanya bosan.
“Yasss!” teriak Sakura dan langsung mencomot makanan yang terdapat dalam plastik itu, karena plastik itu berisi makanan kesukaan Sakura seperti coklat, roti selai coklat kacang, pocky, biscuit coklat chip, susu coklat, yoghurt strawberry, dan makanan kesukaan Sakura lainnya, tak sampai setengah jam makanan-makanan itu tak tersisa lagi sedangkan Ino hanya menatap ngeri ke arah Sakura yang makan seperti gelandangan yang tak pernah makan sebulan, dan hey dia yang membeli semua ini dan dia hanya mendapat satu kotak susu dan dua stick pocky, okay sahabat pinkynya ini memang jahat.
“Jadi… apa?” Tanya Ino yang melihat Sakura sudah menghabiskan makanannya.
Mendengar pertanyaan Ino, Sakura kembali murung dan hampir menangis,”Ugh… kakak itu tidak mengirimiku pesan selama dua hari! Bahkan sebelumnya aku yang selalu mengirim pesan duluan, padahal kan dia yang menyukaiku awalnya, kenapa sekarang jadi aku yang sangat ingin berpacaran dengannya?” ujar Sakura hampir menitikkan air mata.
“Kakak itu siapa? Aku tidak mengerti.”
“Bodoh! Kak Sasuke lah! Siapa lagi?” ujar Sakura kesal melihat wajah sok tidak tahu sahabat piggynya ini.
“Uhm, Uchiha Sasuke, kan katamu dia cerdas, kuliah di jurusan teknik mesin, sudah diterima kerja di PLN padahal baru kuliah dua semester, jadi mungkin dia sibuk kuliah.” Ujar Ino sambil berfikir.
“Jadi, karena sibuk dia melupakanku begitu? Padahal setiap hari dia mengajakku jalan-jalan tapi selalu kutolak, kenapa sekarang dia tidak mengirimiku pesan.” Sakura memperlihatkan dengan jelas wajah murung dan gelisahnya, sekali lagi ia lihat handphonenya dan masih saja tidak ada pesan masuk.
“Mungkin dia masih gengsi, seperti katamu Sakura.”
“Kalau memang sayang padaku, kenapa harus gengsi?!” Tanya Sakura agak berteriak.
Lama-lama Ino juga kesal kalau begini, “Ya memangnya aku tahu? Aku pulang saja, ada janji dengan Shika-kun, bye.” Ujarnya sambil memeluk Sakura lalu pergi.
Selanjutnya Sakura hanya berguling-guling di atas ranjangnya dan akhirnya tertidur.








‘Cause I’ve got a blank space baby, and I’ll write your name
‘Cause I’ve got a blank space baby, and I’ll write your name
‘Cause I’ve got a blank space baby, and I’ll write your name
Penggalan lagu Blank Space dari Taylor Swift berbunyi dari handphone yang Sakura genggam menandakan ada yang menelepon.
Karena nada dering disertai getaran yang menjalar dari tangan ke tubuhnya Sakura pun langsung terbangun dan mengangkat telepon.
“Halo?”
“Halo.”
“Halo?”
“Halo.”
“Halo?”
“HALO!” Sakura mulai kesal, apa-apaan orang ini.
“Oh Adik baru bangun tidur ya?” OMG, suara siapa ini?
“Kak Sasuke?!” Tanya Sakura memastikan orang diseberang telepon, dengan segera ia menjauhkan handphonenya dari telinganya untuk melihat kontak, dan ya…
“Iya.”
“Umh oh…” Okay, Sakura tidak dapat berkat-kata sekarang.
“Lagi dimana dik?”
“Di rumah.” Jawab Sakura seadanya namun tetap mengedepankan nada cuek karena ingin balas dendam.
“Loh, biasanya sedang ada di sekolah, kok?” terdengar nada heran di seberang sana.
“Ya lagi libur.” Jawab Sakura dengan secuek-cueknya.
“Oh libur… Kakak hanya ingin mendengar suara adik saja kok, makanya kakak menlepon.” Okay itu gombal. Tapi reaksi Sakura?
Sakura terlihat berjingkrak-jingkrak di atas kasurnya sambil tertawa girang, OMG apa katanya tadi? ‘Ingin mendengar suara Sakura?’
“Oh…” Sakura menanggapi sambil tertawa kecil.
“Okay.”
“Okay.”
“Okay.”
“Okay… Bye.”
“Bye.”
Sakura menutup teleponnya dan tertawa girang, sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa ia lupa menanyakan kemana saja kakaknya itu selama dua hari ini?! Ugh, ia kembali berguling-guling di atas kasurnya, lagi.


FIN :v
Ditulis pada May 28, 2015
With Love,

Fina Sarah Adhari
Ig: finasaadha
Twitter: finasaraha_13
Share
Tweet
Pin
Share
No comment


Naruto ©Masashi Kishimoto
SasuSaku’s Pairing
Warning: OOC, alur kecepetan, gaje, typo bertebaran (walaupun sudah diminimalisir), dll.
Note: sudah pernah dipost di fanfiction(dot)net dengan judul sama.
Happy reading minna!^^)/


          Malam minggu, ah malam yang sangat menyenangkan bagi para remaja atau orang tua juga mungkin/?. Dimana malam itu langit terasa lebih indah dari hari-hari biasanya karena yang pacaran biasanya ketemuan. Yang LDR-an biasanya saling menelpon atau skype-an. Sementara yang jomblo biasanya berharap agar langit mendung dan hujan agar yang pacaran tidak jadi ketemuan. Agar yang LDR tidak jadi saling menghubungi karena sinya hancur saat hujan(?). Yah, begitulah kurang lebih keadaan manusia malam itu.
           Tampak di sebuah ruang keluarga di rumah besar Uchiha terlihat Naruto tengah melempar-lempar bantal sofa kepada Sasuke, pasalnya, Sasuke berjanji menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya belakangan ini, namun sampai detik ini dia tidak mau membuka mulutnya sedikit pun.
“Sasuke! Apa perlu aku melempar beton ke depan wajahmu yang sangat dikagumi itu?!” bentak Naruto yang sudah sangat kesal karena Sasuke terlihat tak berminat membuka mulut walaupun Naruto sudah melemparnya dengan bantal.
Sementar Sasuke masih tetap diam, Naruto pun memikirkan cara agar Sasuke setidaknya menjawab dengan ‘hn’ saja.
Ah! Itu dia!
“Jangan-jangan kau benar-benar pms ya Sasuke?” bisik Naruto tepat di telingan kanan Sasuke.
Akhirnya, Sasuke menolehkan wajahnya dan mendelik kesal, hei, mana mungkin dia pms!
Tapi sayang, hanya itu yang dilakukan Sasuke, dia masih enggan membuka mulutnya.
Dan mata Naruto pun menjadi berbinar-binar ketika melihat Itachi yang sepertinya akan jalan-jalan keluar—penampilannya rapi. Ide cemerlang pun terlintas di otaknya. Aha! Dijamin manjur!
“Itachi-nii!” panggil Naruto. Itachi pun menghampiri adik dan temannya itu.
“Ada apa Naruto?” Tanya Itachi kemudian mengambil tempat di samping Sasuke.
“Aku punya kabar penting tentang Sasuke yang pastinya sangat menggembirakan Itachi-nii dan Paman juga Bibi tentunya.” Sasuke menatap Naruto tajam sementara Naruto hanya menyengir.
Itachi melirik Sasuke sekilas,“Ah benarkah? kabar tentang apa itu Naruto?” Tanya Itachi kepo.
“Sasuke menyukai kakak kelas kami yang bernama SAKURA!!!” jawab Naruto dengan teriakan di akhir kalimat.
Sasuke yang mendengar nama Sakura pun langsung ‘connect’.
“Bukan Aku yang menyukainya, tapi dia yang menyukaiku!” timpal Sasuke tak terima.
“Hei sudahlah Otouto, aku tahu kau orangnya gengsian alias tsundere. Jadi, kapan kau berencana ‘menembaknya’?” Tanya Itachi sambil mengeluarkan seringai jahilnya.
“Kalau aku tembak dia bisa mati, baka!”
“Eh? Dasar bodoh.” Timpal Naruto mendengar perkataan Sasuke tadi. Apakah Sasuke se-kudet itu?
Menghela napas melihat tingkah adiknya yang tidak berpengalaman dalam urusan tembak menembak/?, Itachi pun bangkit  dari sofa dan segera menuju pintu keluar rumah, sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat mengucapkan perkataan menyindir untuk adik kesayangannya itu. “Maksudku kapan kau mau menyatakan perasaanmu padanya, Sasu-chan. Apa kau tidak iri melihatku setiap malam minggu ngapelin pacar-pacarku, hm?” dan Itachi pun berlalu pergi.
Naruto yang mendengarnya pun hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Sementara Sasuke? Ia hanya mendengus kesal sambil berteriak dalam hati ‘ngapain punya pacar kalo tiap malem minggu mesti ngepelin rumahnya? Emangnya aku pembantu apa?!!!’
Heee?!
.
.
.
.
.
Kini Naruto dan Sasuke telah berada dalam kamar si Uchiha bungsu, Naruto pun memainkan i-Pad Sasuke, sementara Sasuke asik bermain game online di laptopnya.
Ketika Naruto membuka facebook, ternyata ada yang mengiriminya pesan, oh ternyata dari Sakura.
Sakura Haruno
Heii Naruto, aku jadi penasaran nih, Sasuke pernah suka sama orang ga?
Aruu Naruto
Dari dulu sih dia ga pernah pacaran, kalo orang yang dia suka. Mungkin ada, tapi dia gak mau bilang.
Sakura Haruno
Oh gitu ya…
 Aruu Naruto
iya.
Di lain tempat…
“Mungkin Sasuke tidak peduli padaku karena dia sudah punya seseorang yang ia suka.” Gumam Sakura.
Sakura menutup laptopnya dan memilih untuk tidur, mungkin dia harus memutuskan sesuatu.
Melihat Sakura yang sudah offline. Naruto mengangkat wajahnya untuk melihat Sasuke, tampaknya dia masih berkonsentrasi dengan gamenya. Dasar gamer!
Sasuke yang merasa di perhatikan akhirnya mendengus dan membuka suara,”Ada apa denganmu Dobe? Kenapa melihatku seperti itu? Menjijjikkan tau!” ujarnya ketus.
“Kau bilang mau memberitahu padaku apa yang terjadi padamu belakangan ini.”
“Hn, lupakan.”
“Tapi kau sudah berjanji padaku.”
“Aku tidak berjanji pada siapa pun.”
“Aku memang bukan ‘siapa pun’, aku Naruto dan kau berjanji padaku.”
“Tidak.”
“Ya! Dan cepat katakan dengan jujur atau semua game ini lenyap.” Ancam Naruto memperlihatkan berbagai macam game yang sudah ia tandai di i-Pad Sasuke.
“Berikan padaku, itu i-Padku!”
“Tidak, sebelum kau cerita.”
“Baiklah.”
Naruto tersenyum senang dan menatap Sasuke.
“Hhh, aku hanya merasa bingung dengan yang kurasakan—“
“Pada?”
“Hn?” gumam Sasuke tak mengerti.
“Maksudku, kau bingung dengan perasaanmu kepada siapa? Sakura-senpai?”
“B-bukan siapa-siapa, baka!”
Naruto tertawa mendengar jawaban Sasuke. Hahaha.
.
.
.
“Sakura!” sapa Ino ketika melihat Sakura turun dari mobilnya. Ah betapa rindunya pada sahabat kesayangannya ini, selama liburan ini mereka jarang bertemu.
“Hai Ino, tumben kita sampai di sekolah bareng ya.” Ujar Sakura sambil memposisikan dirinya di samping Ino.
“Yah, kau yang tumben datang pagi begini.” Timpal Ino cuek. Sepertinya ia mengingat sesuatu.
“Hehe, iya, Sasori-nii mau jemput pacarnya jadi dia mengantarku dulu.”
Merasa tak ada jawaban dari Ino, Sakura pun menoleh pada Ino.
“Hei, kau kenapa diam begitu Ino? Wajahmu aneh sekali.” Lanjut Sakura.
“E-eh ano, kamu suka sama Sasuke kan?”
Sakura mengangkat sebelah alisnya, heran. “Yah, kurasa aku sudah tidak menyukainya lagi. Memangnya kenapa? Apa kau menyukai Sasuke?”
He?
“K-kau sudah berhenti menyukai Sasuke?!” Tanya Ino kaget, Ino bertanya-tanya dalam hati.
“Iya, hehehe.” Jawab Sakura yakin.
“C-cepat sekali!” teriak Ino dibalas dengan kikikan Sakura. Ino pun mulai gelisah. Kenapa?
 Kali ini mereka sudah sampai di kelas dan dikejutkan oleh sahabatnya yang bersama dengan—
“Hinata dan… Naruto?!”
—Naruto.
Hinata dan Naruto pun menghentikan ‘kegiatan’nya karena mendengar suara Sakura dan Ino.
“Kenapa kalian berpelukan?!” Tanya Ino, hei hei hei Hinata tidak pernah membicarakan laki-laki, tapi kenapa dia bisa bersama dengan teman Sasuke dan Sai?
“E-eh k-kami—“
“Memangnya kenapa kalau kami berpelukan?” Naruto memotong kalimat Hinata.
“Tidak, bukan masalah jika kalian berpelukan, tapi masalahnya kenapa tiba-tiba? Memangnya kapan kalian dekat?” kali ini Sakura yang berbicara.
“Yah, kurasa kau berhutang penjelasan pada kami, Hinata.” Ujar Ino menutup percakapan karena murid-murid yang lain mulai berdatangan –tadi, waktu Hinata dan Naruto berpelukan, kelas masih kosong.
.
.
.
.
.
“Ne, Hinata. Bisa kau jelaskan kenapa?” Tanya Ino penuh menuntut.
“S-sebenarnya kami sudah dekat sejak tiga bulan yang lalu.” Jawab Hinata pelan.
“Heee?! Kenapa tidak cerita?” Tanya Sakura heran.
“K-kan waktu i-itu kita sedang u-ujian.” Jawab Hinata semakin pelan.
“Ih iya juga sih, tapi kenapa sih ga bilang-bilang kan ada banyak waktu setelah uj—“
“Kalian udah jadian?” Tanya Sakura lagi —memotong kalimat Ino.
“Y-ya, baru t-tadi pagi.”
Flashback on by Hinata PoV
Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di sekolah untuk bersih-bersih kelas walaupun bukan aku yang piket, seperti biasa masih sepi, dan aku sering merasa diperhatikan, tapi sungguh tak ku temukan siapa pun. Saat aku berada di koridor, samar-samar aku mendengar suara berisik dari kelasku, bukan suara orang, tapi suara peralatan-peralatan gitu, apa ada siswa yang mendahuluiku? Tumben sekali dia. Dan tepat saat aku masuk terlihat jelas kalau kelasku sudah bersih dan aku juga melihat laki-laki berambut orange, sepertinya aku mengenalnya, tapi di kelasku tidak ada siswa yang berambut orange. Dan tepat saat dia berbalik menghadapku, astaga!
“Siapa kau?!”
“Hai Hinata!” lho? ‘Senpai’nya mana?. Aku melihat dia menyengir.
“S-sedang a-apa di sini?” tanyaku gugup.
Ah! Dia tersenyum. “Aku hanya ingin membantumu membersihkan kelas.”
“D-dari mana k-kau tahu a-aku sering membersihkan kelas?”
Aku melihat dia tersenyum lagi, ah manisnya! “Aku memerhatikanmu setiap hari.”
Ahh aku yakin wajahku pasti sudah sangat merah, rasanya aku ingin pingsan!
“J-jadi itu kau?”
“Kau menyadarinya ya?”
Kami pun tertawa bersama. Itulah awal kami bertemu, setelahnya kami berkenalan dan bertukar nomor telepon, dan kami pun jadi sangat dekat. Dia selalu datang pagi dan menemaniku membersihkan kelas dan kembali ke kelasnya sebelum sekolah ramai. Aku sangat senang mengenalnya, namanya Naruto, aku semakin senang saat tahu ternyata dia sahabat baik Sasuke.
Dan tadi pagi seperti biasa dia membantuku membersihkan kelas. Saat aku ingin mengambil sapu di lemari, aku seperti melihat hewan kecil yang aku tak tahu apa, itu membuatku terjungkal ke belakang dan jatuh jika saja tak ditahan oleh Naruto. Posisi ini seperti dia memelukku dari belakang, ah wajahku pasti sudah memerah.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Naruto, dia membalikkan badanku untuk menghadapnya, aku hanya bisa menunduk dan sedikit mengangguk. Lalu, aku merasa dia semakin mengeratkan pelukannya padaku. Setelah itu dia melonggarkan pelukannya dan mengangkat wajahku untuk menatapnya. Aaaa aku malu!
“Aku menyukaimu.” Dia menatapku dan tersenyum lembut, aku pun balas menatapnya dengan malu-malu,”A-aku juga menyukaimu.” Dia mencium pipiku sekilas lalu menarikku ke dalam pelukannya. Dan, saat itulah Sakura dan Ino datang.
 Flashback off
Setelah Hinata selesai bercerita wajah Sakura dan Ino pun berubah. “PJ!!!” teriak Sakura sangat bersemangat, yeay dia bisa minta pajak jadian sepuasnya!
“Nah itu!” lanjut Ino mulai bersemangat.
“I-iya deh aku traktir.” Ujar Hinata kalem, kalo udah gini, pasti dia rugi bandar deh. Sakura sama Ino kan rakus banget kalau udah makan gratis.
“YEAYYYY!!!”
Dalam hati Hinata berteriak ‘OH GOD I’M DYINGGG!!!’
.
.
.
.
.
Sakura, Ino, dan Hinata sedang menikmati es krim jumbo kesukaan mereka yang biasanya mereka makan pada akhir bulan dengan uang tabungan selama sebulan penuh, namun kali ini Sakura dan Ino menyantapnya dengan suka cita karena Hinata yang membayarnya. Hahaha.
Seakan teringat sesuatu yang selalu tiba-tiba mengusik pikirannya, Ino berhenti menyantap es krimnya yang tinggal setengah itu. Sakura yang menyadari gerak gerik Ino pun mulai membuka suara.
“Ne, Ino sepertinya kau mau mengatakan sesuatu?”
Hinata pun menatap kedua sahabatnya bergantian, sepertinya atmosfir yang tadi tenang-tenang saja sudah berubah menjadi sedikit lebih suram.
“Ya, sepertinya aku harus menanyakan sesuatu kepadamu.”
“Tentang apa?”
“Perasaanmu pada Sasuke.”
Sakura dan Hinata pun mengerutkan kening, maksudnya?. Ino yang mengerti akan ekspresi kedua sahabatnya itu pun melanjutkan kalimatnya.
“Yah, jangan bilang kau berhenti menyukai Sasuke karena kau berpaling ke lain hati, ke hati Sai misalnya.”
“He? Kau menuduhku menyukai Sai? Hei, dia itu hanya sahabat kecilku. Aku tak mungkin menyukainya!” jawab Sakura dengan kening berkedut sambil menyuapi sesendok penuh es krimnya ke dalam mulut kecil/?nya.
.
.
.
“Asal kalian tahu, aku sudah jadian sama Sai tau! Jadi jangan bilang kau menyukainya Sakura!” perintah/? Ino.
Tanpa memberi kesempatan Sakura untuk menjawab, Ino melannjutkan kalimatnya lagi.
“Dan jangan berhenti menyukai Sasuke!”
“Aku tidak menyukai Sai, dan pokoknya aku sudah menyerah akan Sasuke, titik.” Malas berdebat, Sakura pun melahap dengan ganas es krim jumbo kesukaannya itu.
“Dan, k-kapan kalian j-jadian Ino? Kau sendiri tidak menceritakannya pada kami.” Tanya Hinata penasaran. Sakura yang mendengar pertanyaan Hinata hanya manggut-manggut setuju.
“Ehehe, baru seminggu sih.” Ujar Ino malu-malu. Hinata menghela napas, gimana sih, tadi dia yang nyolot maksa cerita tentang kedekatannya dengan Naruto. Tapi kok malah dia sendiri yang jadiannya jelas-jelas lebih dulu aja nggak cerita-cerita, apalagi Hinata yang baru tadi pagi.
“Huh, pokoknya kamu harus ngasi pajak jadian yang lebih mahal, kemarin aku ngelihat ada dress baru dipajang di butik langganan kita, warnanya pink terus ada biru-birunya, aku suka itu, aku mau kamu beliin aku dress itu, titik.” Ujar Sakura tak tanggung-tanggung. Masalahnya butik langganan mereka itu butik mahal, milik desainer terkenal, pastilah harganya mahal. Toh, mereka ke sana cuma satu kali dua bulan kok.
“E-eh tapi itu kan ma–“
“Aku bilang titik ya titik, harus diturutin, titik.”
Sementara Hinata hanya bisa terkikik geli melihat kedua sahabatnya itu, gini deh kalau Sakura lagi ngambek, hihihi.
.
.
.
Keesokan paginya, Sakura berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya karena Sasori juga sedang ada kuliah pagi. Sakura membuka pintu gerbang lebih lebar dan berjalan lesu ke arah tangga, Sasuke sudah benar-benar membuatnya gila! Bagaimana sih caranya supaya Sasuke menyukainya?
Sakura menaiki tangga dengan slow motion dan berkutat pada pikirannya, sampai-sampai ia terpleset dan-
“Akh!”
Hap
Hampir saja tubuh ringan Sakura mencium lantai di bawah sana, setelah ia ditangkap oleh seorang pemuda.
Merasa badannya tak merasa sakit, Sakura membuka matanya perlahan dan emerald itu pun melebar.
“Sasuke?!” ujarnya kaget.
“Hn.” Sasuke hanya bergumam dan membantu Sakura berdiri.
Sakura langsung berojigi dan mengatakan terimakasih dan ingin segera pergi dari sana saking malunya.
Namun, tangannya ditahan oleh Sasuke.
“A-ap-apalagi?” tanya Sakura terbata-bata.
Pluk
Sakura melebarkan matanya.
Ia sungguh-sungguh kaget dengan aksi Sasuke yang menariknya dalam pelukan pemuda itu.
Mereka segera tersadar setelah mendengar suara-suara dari tangga bawah. Sakura segera melepaskan pelukan itu dan lari ke kelasnya, ia tak dapat menghentikan detak jantungnya yang berdegup kencang.
“Hah hah hah… apa-apaan itu tadi?!” Sakura menghela nafas dan duduk di bangkunya, ia tidak akan fokus belajar hari ini.
.
.
.
Setelah seharian melamun sambil senyam-senyum sendiri, kini Sakura harus menghadapi kenyataan, bawah teman-temannya meninggalkannya untuk piket sendiri -lagi.
Ia membersihkan kelas sambil bersenandung riang, untung saja kejadian baik terjadi padanya tadi pagi, kalau tidak dia pasti sedang menggerutu sekarang.
Setelah selesai, Sakura segera merapikan peralatan yang digunakannya dan menutup pintu kelas.
Matanya melebar.
Di ujung tangga itu, ada seorang pemuda yang berdiri tegap.
“S-Sasuke…” ucapnya pelan.
Ia pun segera menuruni tangga, saat hendak melewati Sasuke, ia mulai memelankan langkahnya.
“Sakura.”
Mendengar itu Sakura langsung berhenti di tempat. “I-iya?” ia menoleh takut-takut.
“Ayo pulang bersama.” Ujar Sasuke, Sakura hanya bisa terkaget-kaget dengan sikap Sasuke ini.
Well, sepertinya Naruto sudah berhasil membujuk Sasuke untuk jujur pada perasaannya sendiri.


-END-

[Chapter 1][Chapter 2][Chapter 3][Chapter 4][5]

Baca juga A SasuSaku Fanfiction: LIFE

Fina Sarah Adhari
Ig: finasaadha
Twitter: finasaraha_13
Share
Tweet
Pin
Share
No comment
        
       By Fina Sarah Adhari
Naruto ©Masashi Kishimoto
SasuSaku’s Pairing


(Just a short fic)


“Ah, Laptopku kena virus!” ujar Sakura sambil mengacak-acak rambutnya.
“Bagaimana ini, Ino? Bantu aku dong!” ujar Sakura sambil menggoyang-goyangkan badan sahabat blondenya itu.
“Uh, Sakura. Bisakah kau diam? Aku sedang fokus dengan majalahku, ada style fashion terbaru dan sangat keren.” Balas Ino tanpa menghilangkan pandangannya dari majalah tercintanya itu.
“Aku tak akan diam sebelum kau memberi solusi.” Balas Sakura dengan wajah cemberut yang sangat imut.
“Mudah saja Sakura, kau bawa saja ke tempat service laptop, masalah selesai.”
“E-eh, benar juga sih. Tapi…” Sakura tampak berfikir.
“Tapi apa?” Tanya Ino pada sahabat pinknya yang sangat cerewet itu.
“Tapi aku tak punya uang. Berikan solusi yang gratis saja!” mendengar pernyataan Sakura membuat Ino sweatdrop, ia pun menatap wajah Sakura.
“Hey, jidat! Kau bodoh atau apa? Kenapa kau tidak mengadu saja pada Sasuke? Dia kan bisa segala hal, apalagi masalah begitu saja, pasti dia bisa mengatasinya dengan mudah.” Ujar Ino kesal.
Mendengarnya, Sakura nampak berfikir sebentar kemudian mengangguk.






“Ohayou, Sasuke-kun!” sapa Sakura riang. Ia sengaja datang sangat pagi karena ingin berduaan dengan Sasuke yang selalu datang pagi.
“Ohayou mou.” Balas Sasuke seperti biasanya, ia terlihat sedang membaca sebuah buku.
“Hm, itu… kau baca buku apa?” Tanya Sakura sambil memerhatikan buku yang dipegang Sasuke.
“Kau kepo sekali, Sakura.” Jawab Sasuke menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Huh, Sasuke-kun pelit!” ujar Sakura kemudian mengerucutkan bibirnya.
“Hn.” Gumam Sasuke cuek.
“By the way, aku mau menanyakan sesuatu padamu.” Ujar Sakura dengan nada serius yang dibuat-buat. Setelah melihat Sasuke mengangguk, Sakura pun mengambil laptopnya dan menaruhnya di meja Sasuke, mereka duduk berhadapan sekarang.
“Ada apa?” Tanya Sasuke heran karena Sakura mengambil laptopnya.
“Sebenarnya aku membutuhkan bantuanmu.” Ujarnya pelan, mungkin malu karena dia tidak pernah meminta bantuan Sasuke sebelumnya.
“Kebetulan… .” Gumam kecil Sasuke. Sementara innernya berteriak ‘Saatnya mempraktekkan buku yang kubaca! Hahaha!’. Wkwkwk, ada-ada saja kau Sasuke.
“He, kau bilang apa tadi Sasuke-kun? Aku tak dengar.” Tanya Sakura setelah menekan tombol on pada laptop kesayangannya.
“Tidak ada.”
 “Hm, Sasuke-kun. Jadi begini, laptopku sepertinya terkena virus, kemarin aku ingin mengcopy file dari flashdiskku, isinya film-film romance yang kudapat dari Tenten, dan kau tahu aku sangat ingin menonton semuanya! Tapi yang terjadi adalah semua file yang ada di flashdisk itu menjadi shortcut Sasuke-kun. Uh, itu sangat menyiksaku.” Ujar Sakura membuka suara setelah sebelumnya hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat.
“Hn, apa yang kau lakukan pada laptopmu sebelumnya?”
“Hmm… ah, aku mengcopy foto-foto dari handphone Hinata, Karin, Tayuya, dan mmm siapa lagi ya.” Jawab Sakura nampak berfikir.
“Memangnya di laptopmu tidak ada antivirusnya?” Tanya Sasuke lagi.
“Ada dong, tapi cuma satu, cuma awira antivirus aja, Sasuke-kun.” Jawab Sakura.
“Hn.” Sasuke pun mengambil alih  laptop Sakura dan mencolokkan flashdisknya ke laptop Sakura.
Murid-murid pun mulai berdatangan, untungnya siswa yang bangkunya Sakura duduki saat ini belum datang juga.
“Sudah selesai, virusnya sudah hilang, aku juga sudah menginstallkan antivirus yang lebih bagus.”   Ujar Sasuke menyodorkan laptop itu kepada Sakura.
“Hah? Waaaaw Sasuke-kun sangat keren, terimakasih ya!”
“Hn, lain kali jangan asal colok flashdisk atau hp ke laptopmu ya.”
“Ya ya ya, terimaka—“
“Sakura.” Ujar Sasuke memotong kalimat Sakura.
“Kenapa Sasuke-kun?” Tanya Sakura heran.
“Aku tak bilang aku membantumu dengan gratis, kan?” Tanya balik Sasuke dengan seringai kecil di sudut bibirnya.
“Heee? A-ku tak punya uang, Sasuke-kun!” ujar Sakura takut-takut.
“Hn, aku tak bilang kau harus membayarnya dengan uang. Kau hanya harus membantuku juga.” Ujar Sasuke dengan seringai yang semakin membesar.
“Mm hmm, m-memangnya membantu apa Sasuke-kun? Bukankah kau bisa mengatasi segala hal lebih baik dari aku?”
“Benar. Tapi aku benar-benar butuh bantuanmu untuk masalah yang satu ini. Kau pintar biologi kan?”
“E-eh? A-aku baru tahu kau berfikir begitu, tapi aku memang suka biologi.” Jawab Sakura sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku terkena suatu virus yang sangat berbahaya bagiku, dan kaulah yang menularkan virus itu padaku.”
“A-aku?” Tanya Sakura gugup.
“Hn. Dan tahukah kau virus apa itu, Sakura?” seringai kini menghiasi wajah laki-laki itu dengan sempurna.
“T-tid—“
“Itu adalah virus cinta. Aku terkena virus cinta darimu, Sakura.”
“He? Apa itu artinya kau—“
“Ya, aku mencintaimu Sakura.”
“Haaaaaaaaaaaaa???” sepertinya seluruh penghuni kelas kaget mendengar pernyataan Sasuke, terkecuali Sasuke pastinya.






“Oh, jadi Sasuke-kun belajar dari buku ini, pantas saja dia menyembunyikannya saat kutanya.” Ujar Sakura melihat-lihat isi buku yang berjudul “Gombalan Ampuh Untuk Menaklukkan Hati Para Gadis”. Ne, sepertinya berhasil, walaupun hanya digunakan untuk seorang gadis. Tapi, tentang pelajaran biologi, sepertinya tidak nyambung jika dikaitkan dengan masalah ini.

END (dengan gajenya)


Ditulis pada December 14, 2014
With Love,
Fina Sarah Adhari
Ig: finasaadha
Twitter: finasaraha_13
Share
Tweet
Pin
Share
No comment

Naruto ©Masashi Kishimoto
SasuSaku’s Pairing
Warning: OOC, alur kecepetan, gaje, typo bertebaran (walaupun sudah diminimalisir), dll.
Note: sudah pernah dipost di fanfiction(dot)net dengan judul sama.
Happy reading minna!^^)/


          Bel sudah berbunyi menandakan waktu untuk mengerjakan soal sudah selesai, sekarang waktunya istirahat dan belajar atau menunggu untuk ujian selanjutnya.
Sementara Sasuke hanya duduk dengan wajah tanpa ekspresi, seperti biasa. Namun ada yang aneh dengan dirinya. Sasuke pun hanya bertanya-tanya pada dirinya sendiri walaupun tak kunjung mendapatkan jawaban.
Naruto yang melihat sahabat karibnya itu pun menghampirinya.
“Oi Teme! Kau tidak ke kantin?” Tanya Naruto setelah duduk di samping Sasuke.
Sasuke tak menjawab seakan ia tak mendengar pemuda di sampingnya ini sedang berbicara, kemudian ia menopang dagu dengan kedua tangannya, seperti hendak berpikir.
           Naruto yang melihat jelas keanehan orang yang ia panggil ‘Teme’ ini pun menghela nafas. Jarang-jarang lho Uchiha Sasuke menopang dagu seperti itu. Untung saja ia memakai dua tangan, nah kalau satu tangan itu kan lebih parah! Macam banci berpose alay gitu lah. Iih
“Kau aneh sekali…” tutur Naruto.
Sasuke tak menggubrisnya, ini membuat Naruto tak tahan sendiri.
“OI TEME! ADA APA DENGANMU HEH?” teriak Naruto tepat di telinga kanan Sasuke.
Sasuke pun mengeluarkan aura hitamnya, bagaimana kalau nanti si tampan Sasuke menjadi tuli hanya karena teriakan teman bodonya itu, eh?
“Ck, berisik.” Sasuke mendelik pada Naruto. Naruto membalas dengan decakan kesalnya. Sialan Sasuke ini pantasnya tinggal di kutub!
“Kau aneh Teme, tak biasanya. Kalau ada masalah ceritakan padaku.” Naruto berusaha menahan amarahnya karena Sasuke tak kunjung bersuara. Setitik akal muncul di otaknya.
“Aku tahu… kau… pasti sedang……” Naruto sengaja menggantung kalimatnya, ia ingin tahu apakah Sasuke penasaran dengan pemikirannya kali ini. Dan benar saja, Sasuke meliriknya sebentar, yah walaupun sebentar.
“KAU  PASTI SEDANG DATANG BULAN KAN TEME???!!!” teriak Naruto. Suaranya menggelegar sampai membuat heboh penjuru kelas. Sementara Sasuke langsung menatapnya tajam, tak ingin memberi ampun ia pun memberikan hadiah pada Naruto yang berhasil membuatnya malu. Ck, Sasuke datang bulan? Hahaha
PLAKKK
Sasuke memukul kepala Naruto dengan buku tebal  yang ada di kolong meja Sasuke.
“Isshh ittai!” keluh Naruto pada Sasuke.
Sasuke memandangnya sinis, sialan sekali anak ini.
“Gomen, habis kau diam-diam saja dari tadi.” Sasuke mendelik. Bukankah memang dia lebih suka diam? Apa Naruto ini berharap Sasuke menjadi pemuda yang cerewet sepertinya? Ck, dalam mimpimu Naruto!
“Kau pasti sedang memikirkan Sakura-senpai kan? Kan? Kan?” sempurna! Sasuke menoleh sempurna kepada Naruto. Naruto memasang senyum kemenangan pada bibirnya. Sedetik kemudian…
PLUK TEG DEG DOR DRAK
Dan segala macam suara terdengar dalam kelas itu. Sasuke menghajar Naruto abis-abisan, untungnya dia masih punya akal sehat jadi ngehajarnya nggak keras-keras.
Naruto pun kapok dan langsung duduk di tempat duduknya tanpa memerdulikan Sasuke yang memandangnya sinis. Ternyata Sasuke sensitive sekali ya saat mendengar nama Sakura(?)
.
.
.
Saatnya matahari beristirahat, bulan pun mulai bekerja.
“Uhh Ino!! Menyebalkan sekali sendirian di rumah! Ibuku saja baru pulang sejam yang lalu! Padahal ia pergi dari pagi dan hanya belanja ke supermarket! Bayangin lama banget cobaaa!!??” Sakura berceloteh ria kepada lawan bicaranya di seberang sana.
“Hahaha, sabar dong forehead! Lagian besok kamu masuk sekolah kan?”
“He’eh.” Jawab Sakura mengiyakan.
“Nah! Bagus! Aku ada kejutan untukmu lho, Sakura!”
“Yang benar? Wah, kalo gak masuk sehari aja dapat kejutan gimana kalo ga masuk sampai libur selesai yaa?” jawab Sakura yang sedang memikirkan tentang ‘kejutan’ apa yang akan ia dapatkan dari teman cantiknya ini.
“Huh, kalau selama itu ya kejutannya batal, lagian kejutannya cuma berlaku selama ujian.” Jawaban Ino membuat Sakura penasaran.
“Memangnya kau memberiku kejutan apa?”
“Kalau dikasi tahu bukan kejutan namanya! Tebak aja ya, kalau gak bisa nebak liat aja besok!”
Sakura mendengus, otaknya mengira-ngira.
“Eh, Sakura kita gak seruangan lho. Kamu seruangan sama Hinata.” Tutur Ino. Sakura hanya manggut-manggut.
“Udah dulu ya, aku mau baca majalah dulu nih. Ada style fashion terbaru nih. Jaa!” belum sempat Sakura berbicara tapi Ino sudah menutup teleponnya. Sakura mendengus dan membaringkan dirinya di tempat tidur. Memangnya Ino itu tidak belajar ya? Kalau Sakura kan sudah belajar dari tadi siang saat sudah merasa sehat.
Kira-kira kejutan Ino itu apaan ya?
Sekelebat pikiran tentang Sasuke pun melayang-layang di kepalanya. Jangan-jangan kejutannya Sasuke? Tapi gak mungkin lah ya… memangnya Sasuke menganggap Sakura seperti apa?
.
.
.
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, sudah bosan ia memandang buku yang berada di depannya ini. Ia menatap  kelas yang masih kosong itu dengan malas, salahkan ayahnya Haruno Kizashi yang mengantarnya pagi-pagi sekali! Membosankan sekali harus duduk sendirian.
Sakura membuka tutup bukunya beberapa kali sampai dia benar-benar bosan, kini ia menidurkan wajahnya di atas meja dengan kedua tangan menopang wajahnya. Beberapa menit kemudian ia tertidur. Ck, tak ada bosannya tidur ya?
Tak tahu sudah berapa lama ia tertidur, yang jelas Sakura bangun disaat kelas mulai ramai. Matanya tertuju pada sebuah tas hitam yang berada di sebelahnya, ada gantungan kunci yang cukup menarik perhatiannya. Teman duduknya sudah datang eh? Tapi, mana orangnya?
“Oi.” sebuah suara mengagetkan Sakura yang masih memandangi gantungan kunci yang terdapat di tas teman duduknya itu, rasanya ia pernah melihatnya. Familiar sekali.
“Eh?”
“Kenapa tidak memberitahuku kalau sudah bertemu dengan kejutanmu?” Tanya Ino sok ketus. Pandangannya mengikuti pandangan Sakura kepada tas disampingnya. Aneh, apa dia sudah ganti tas ya? Pikir Ino.

“Hah? Aku belum bertemu dengan kejutanku Ino. Kau ini bagaimana sih, bukannya kejutannya ada padamu ya?”Tanya Sakura balik. Enak saja, mana pernah ia bertemu dengan kejutannya, toh dia baru bangun kan? Tadi juga dia tak bermimpi. Memangnya kejutannya orang atau barang?
Saat Ino hendak bicara bel pun berbunyi.
“Ah, bel masuk! Jaa forehead!” tutur Ino sembari berlalu menuju kelasnya, walaupun dengan berat hati karena ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Sakura kembali menidurkan wajahnya di atas meja setelah mengeluarkan perlengkapan ujiannya.
Tanpa disadari Sakura sudah ada yang duduk di sebelahnya.
“Ohayou minna!” sapa seorang guru yang berhasil menyadarkan Sakura dan langsung mendongakkan kepalanya, hampir saja ia tertidur lagi.
Pandangan Sakura beralih pada orang yang duduk di sampingnya. Matanya membulat sempurna.
“KAU?!”
Teriakan Sakura berhasil menarik perhatian seisi kelas. Termasuk pemuda berambut raven yang sudah bertukar tempat duduk dengan pemuda lainnya yang sedang duduk bersebelahan dengan Sakura.
Bertukar tempat duduk, eh Sasuke?
Sedetik kemudian semua berhenti memerhatikan mereka –Sakura dan orang itu– dan sibuk dengan urusan massing-masing kembali.
Dalam hati Sakura berteriak senang. Inikah kejutan yang Ino maksud? Oh senangnyaaa.
Orang itu menatap Sakura, sebuah senyum terpatri di wajahnya.
“Hai Cherry.” Sapa pemuda itu. Sakura membalasnya dengan senyum. Mereka kembali fokus kedepan. Sementara Sasuke?
‘Heran. Heran setengah mati. Apa-apaan itu? Cherry? Orang itu memanggil Sakura dengan sebutan Cherry? Sakura bukan buaaaahhhh!!!‘ batin Sasuke berteriak. Seharusnya semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Tapi kenapa malah menjadi kebalikannya? Sasuke mengerang frustasi. Tumben sekali tebakannya tidak tepat.
Mau tahu apa yang terjadi?
Singkat cerita, kemarin setelah menghajar Naruto. Sasuke langsung menemukan ide cemerlang ketika melihat seorang pemuda menghampiri tempat duduknya sendiri.
Tanpa ba-bi-bu Sasuke langsung menghampirinya dan menyampaikan ide cemerlang yang sudah menempel pada otak jeniusnya.
Sasuke merasa menang ketika pemuda itu meng’iya’kan rencana Sasuke untuk bertukar tempat duduk, alasannya karena ia malas duduk dengan Sakura. Sementara pemuda itu tampak begitu berseri-seri ketika mendengar nama ‘Sakura’. Sasuke pikir Sakura akan sengsara karena duduk dengan pemuda yang Sasuke anggap sebagai fanboy Sakura, yah barangkali fanboynya ini akan membuatnya kesal, sama kesalnya dengan perasaannya sendiri.
Soal guru? Sasuke jamin nggak bakal ada guru yang tahu dan nggak ada juga tuh guru yang mau tahu.
Sasuke pun semakin menyeringai licik ketika berpikir bahwa Sakura sangat berharap duduk bersamanya. Ck! Tapi rencananya gagal! Kenyataanya sekarang adalah,  Sakura sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran pemuda itu. Bahkan ia terlihat senang. Dan, cherry? Itu panggilan kesayangan.
Justru Sasuke lah yang sengsara!
Ia harus duduk dengan gadis culun yang terlihat sangat aneh, yah walaupun dia kakak kelas Sasuke dan terlihat jelas dia tidak tertarik dengan Sasuke, tapi penampilannya itu loh! Cupu, culun, dandanannya aneh. Err sangat kontras, cool dan culun? Ck, bukannya itu saling melengkapi ya? Jangan-jangan itu jodohmu Sasuke! Bukannya jodoh itu saling melengkapi, eh?
Kali ini Sasuke yang ceroboh, ide gilanya harus berakhir dengan kondisinya yang gila juga. Sementara orang yang mau dicelakai? Tampak tenang dan senang tuh. Jangan contoh perilaku Sasuke yang satu ini ya minnasan!!
Sebenarnya, Sasuke hanya tidak tahu apa yang telah terjadi antara Sakura dan pemuda yang menggantikannya itu. Kenyataan sangat menggelikan.
Lebih pilih mana, duduk dengan fangirl yang masih punya malu atau duduk dengan cewek culun dengan dandanan aneh?
Eh, tapi ga masalah juga sih duduk sama gadis culun :v
.
.
.
Bel pulang telah berbunyi, akhirnya selesai juga ujian hari ini. Seluruh murid pun bersiap-siap untuk pulang, tak terkecuali Sakura da teman duduknya itu, mereka tampak sangat akrab malah. Setelah lama mengobrol, pemuda itu berpamitan pulang duluan meninggalkan Sakura yang masih ingin membaca buku di kelas, biasanya Ayahnya itu lama menjemput, dan Sakura juga tidak diperbolehkan naik kendaraan umum, jadi sambil menunggu sambil belajar. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya! Contoh nih! Ckck.
“Forehead!” sapa Ino ketika memasuki ruang kelas Sakura.
“Hai, pig!” Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Ino dengan mata yang berbinar-binar.
“Ada apa denganmu?” Tanya Ino yang sedikit heran dengan mata berbinar itu.
“Kejutanmu indah sekali, arigatou!” jawab Sakura mantap. Ino pun tersenyum melihat sikap Sakura yang ceria itu.
“Hontou ni? Ckck, jelas saja. Bagaimana, Sasuke lebih tampan kalau dilihat dari jarak sejengkal ya?” Sakura mengernyit.
“Sasuke?!” Ino jadi ikutan heran. Kejutannya kan Sasuke!
“Iya, kejutan yang ku maksud adalah kau duduk dengan Sasuke!”
Sakura menganga. Jadi sebenarnya dia duduk dengan Sasuke? Tapi kenyataannya?
“Aku tak duduk dengannya! Aku malah duduk dengan dia!” Sakura menjeda kalimatnya.
“Aku pikir yang kau maksud kejutan adalah dia! kenapa kau tak memberitahuku kalau dia sekolah di sini juga? Menyebalkan sekali kau pig!”
Ino hanya diam dengan tatapan penuh tanya. Sebenarnya siapa yang disebut dengan dia oleh Sakura?
.
.
.
.
.
“Akhirnya aku bertemu denganmu, Cherry.”
.
.

“Cherry?”
Sapaan itu datang dari seorang pemuda yang kita tidak ketahui, entah siapa. Yang jelas dia adalah teman duduk Sakura selama ujian ini.
“Hm?” sahut Sakura mengalihkan pandangan pada pemuda di sebelahnya.
“Kau sudah selesai?”
“Sudah, kau?”
“Aku juga sudah… soalnya tidak begitu susah.”
“Yaaa Aku tahu kau pintar, walaupun Aku lebih pintar sih.”
“Hahaha, takku sangka kau lebih tua dariku.”
“Heh? Kau yang lebih tua! Tapi aku lebih dulu masuk sekolah dasar, kau tidak ingat? Aku kan pintar.” Tutur Sakura percaya diri.
“Hahah, ya Aku tahu. Walaupun kita dulu sering main bersama tapi sepertinya kau tak pernah memanggil nama asliku ya.” Pemuda itu tertawa garing.
“Hmm hahaha maaf ya tapi Aku lebih suka memanggilmu…” Sakura tampak berfikir, mencoba mengingat-ingat nama apa yang ia gunakan untuk memanggil pemuda yang merupakan teman kecilnya ini.
“Heh? Kau lupa ya?” Tanya pemuda itu, Sakura tampak mengangguk kecil.
“Kau tidak ingat gantungan kunci yang kau berikan? Kau memanggilku… Naki. Apa kau ingat sekarang?” Tanya pemuda itu antusias.
“Ahh! Aku ingat, Obana Taiki. Bunga kecil yang memiliki sinar  besar itulah sebabnya Aku memberikan gantungan kunci itu! Hahaha, Aku jadi geli lucu sekali yah, cowok kok dikasi bunga hahaha.” Sakura tertawa terbahak-bahak mengingat itu.
“Lalu siapa nama asliku? Aku ingin kau memanggilku dengan nama asliku, yaah walaupun Aku masih memanggilmu Cherry—nama kecil Sakura.”
“Eh jujur saja aku sudah lupa nama aslimu, Aku aku tak menyangka itu kau, saking terkejutnya Aku jadi lupa menanyakan namamu.”
“Hahaha… namaku—“
“Kringgg Kringgg!!!”
Ahh sepertinya kita harus menunda untuk tahu siapa dia.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, ujian sudah selesai, Sakura serta murid-murid yang lain juga sudah melewati ujian susulan. Beberapa hari ini Sasuke terlihat sangat berbeda, dia merasa senang tapi juga kesal. Rasanya semuanya bercampur menjadi satu kesatuan yang membuat Sasuke frustasi.
“Kau… kenapa Teme?” Naruto jadi ikut-ikutan frustasi melihat Sasuke yang semakin hari semakin aneh tingkahnya.
“Hn.” Naruto mendecak kesal.
“Haaahhhh Temeee!!! Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu belakangan iniiiiiiiiiiii?????????” teriak Naruto frustasi.
Sontak seluruh penghuni kelas menatap mereka–Naruto dan Sasuke– penuh tanda tanya.
“Hn.”
“Oiiiiii jangan jawab hn saja dong Teme!! Aku jadi semakin penasaran apa yang membuatmu jadi seperti ini heh?”
“Baiklah, nanti kuceritakan.” Oh tidak! Masalah besar!!! Sasuke akan menceritakan masalahnya kepada Naruto??? Oh pilihan yang tidak tepat, Sasuke.
“Nanti kapan Teme?? Sekarang sajaaa……..!!!”
“Tidak, aku bilang nanti ya nanti. Lagipula di sini banyak orang.”
“Baiklah.” Naruto mengangguk.
.
.
.
.
.
Di pojok perpustakaan terlihat Sakura sedang membaca novelnya dan tiba-tiba seorang pemuda menghampirinya.
“Sakura.” Sapa pemuda itu.
Sakura mengalihkan pandangan dari novelnya “Hai.” Sapa Sakura balik.
“Kau tak pernah melihatku sebelumnya ya?” Tanya pemuda itu membuka obrolan.
“Iya.”
“Aku sering melihatmu, tapi tak berani menyapamu. Waktu kau merazia di kelasku dulu aku sedang izin ke toilet, aku melihatmu saat keluar dari kelasku. Jadi, sekarang kau menyukai Sasuke ya?”
“Eh? Kau tahu?” Tanya Sakura kaget.
“Hm, tentu saja. Siapa yang tidak tahu fakta yang menggemparkan sekolah itu.” Jawab pemuda itu sinis.
“Sekolah gempar?” Sakura sudah tidak focus dengan novelnya.
“Kau tidak tahu?”
“Tidak.”
“Semua orang membicarakanmu, bukankah kau yang menyebarkannya sendiri di facebook dan twitter mu?”
“Eh? Hehe, benar juga ya.” Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa kau benar-benar segila itu dengan Sasuke?” pemuda itu menatap Sakura penuh arti.
Sakura menunduk “Aku tidak tahu, Naki.”
.
.
.
Di lain tempat, Ino dan Hinata sedang bergosip di sebuah café tempat tongkrongan mereka saat weekend, yah selalu Ino ngoceh dan Hinata manggut-manggut sok ngerti.
“Heh, Sakura kok lama banget sih?” Tanya Ino yang sudah berhenti ngegosip.
“kan dia ingin meminjam beberapa novel di perpustakaan,  selama ujian dia merasa benar-benar bosan tanpa novel.” Jawab Hinata sambil mengaduk-aduk softdrink pesanannya.
 “Hei, maaf lama menunggu.” sosok Sakura pun datang menghampiri mereka.
“Kau lama sekali forehead!” delik Ino.
“Ehehe gomen ne, soalnya teman lamaku tiba-tiba datang menemuiku ke perpustakaan tadi.”
“T-teman lama?” Hinata mengeluarkan tampang kepo andalannya.
“Iya, namanya Naki, dia ikut ke sini kok tapi dia masih beli beberapa alat melukis di toko depan café ini.” Sakura pun duduk di sebelah kiri Hinata.
“Me-lukis?!” Ino mengernyit.
“Ah, itu dia!” ujar Sakura sambil menunjuk teman lamanya itu tanpa menjawab pertanyaan Ino.
Pandangan Ino dan Hinata pun langsung menuju arah tunjukan tangan Sakura, dan betapa terkejutnya Ino melihat pangeran yang dinanti-nantinya itu ternyata teman lama Sakura.
“E-eh? Sai?” Ujar Ino ketika Naki sudah berdiri di depan mereka.
“Apa kita kenal?” ujar Naki dengan senyum yang aneh.
“E-eh? Hehehe—”
“Tidak, tapi sekarang iya.” Ujar Sakura memotong tertawaan/? Ino.
“Sai, yang ini Ino, dia suka padamu dan kurasa kalian cocok, dan ini Hinata, tolong carikan dia cowok.” Lanjut Sakura lagi, kali ini dengan cengiran yang menggelikan. Hei! Apa-apaan yang dia katakan itu?!
 “Oh, hai Ino, Hinata.” Sapa Sai kemudian duduk di samping Ino —karena mejanya segi empat, Ino duduk berhadapan dengan Hinata, Sakura duduk di sebelah Hinata, jadi Sai duduk di sebelah Ino.
“Ehm, Sakura? Tadi… kau bilang Naki kan? Bukan Sai? Lalu kenapa Sai yang ada di sini?” Tanya Ino yang sudah mulai kepo.
“Naki itu panggilan kesayangan, aku panggil dia Naki, dia panggil aku Cherry.” Ujar Sakura dengan semangat.
“P-panggilan kesayangan?” Tanya Hinata tak luput dengan wajahnya yang tampak terkejut itu.
“Iya panggilan kesayangan, tapi hanya antara teman kok, tak lebih.” Jawab Sai ikut nimbrung.

“Tenang aja Hinata, aku gak mungkin ambil Sai dari Ino, hihihi.” Ujar Sakura. Ino yang mendengarnya hanya diam dengan rona merah tipis di pipinya.

To be continued.


[Chapter 1][Chapter 2][Chapter 3][4][Chapter 5]


Baca juga A SasuSaku Fanfiction: LIFE


Fina Sarah Adhari
Ig: finasaadha
Twitter: finasaraha_13
Share
Tweet
Pin
Share
No comment

By Fina Sarah Adhari
Naruto ©Masashi Kishimoto
SasuSaku’s Pairing


(Just a short fic)

“Sasuke!” sapa Naruto dari kejauhan saat melihat Sasuke keluar dari mobilnya.
“Hn.” Balas Sasuke ambigu.
Mereka pun berjalan bersama menuju kelas mereka. Mata-mata hampir seluruh siswa yang ada di sana memerhatikan mereka –tepatnya Sasuke dengan tatapan tanda tanya yang mengintimidasi.
“Sasuke… kau lihat kan tatapan mereka?” Tanya Naruto bergidik yang mulai seram dengan tatapan mereka, bahkan Naruto melihat ada beberapa yang matanya berair karena ingin menangis, sepertinya.
“Bukannya sudah biasa?” balas Sasuke cuek.
“Ya sih, tapi ini berbeda Sasuke, mereka semakin seram.”
Sasuke hanya mengendikkan bahu mendengarnya dan berjalan santai diikuti Naruto yang mulai diam.
.
.
.
“Sakura, kenapa kau bisa berkencan dengannya? Kau mengkhianati kami!” ujar Temari kepada seorang gadis berambut pink yang duduk berhadapan dengannya.
Saat ini Sakura sedang diintrogasi oleh teman-temannya(atau bukan teman, alias teman palsu/?) yang tak terima kenyataan yang dialami Sakura.
“A-aku tak melakukannya, d-dia yang memaksaku.” Ujar Sakura gugup dengan wajah merona malu.
“Kami tak percaya! Mana mungkin dia yang melakukannya, apalagi memaksamu, tidak mungkin!” seru Ino diikuti sahut-sahutan oleh teman lainnya.
“Hey, ada apa nih? Kenapa pada ngumpul di bangkunya Sakura-chan?” Tanya Naruto yang baru saja masuk kelas.
Mendengar suara Naruto pandangan yang tadinya tertuju pada Sakura kini beralih mencari orang yang dekat dengan Naruto, Sasuke.
Hell yeah, inilah yang Sasuke tidak suka, menjadi pusat perhatian, walaupun sudah biasa sih.
“Sasuke! Coba jelaskan pada kami apa maksud dari foto ini!” ujar Karin kesal dan memperlihatkan foto yang menjadi biang tatapan aneh itu.
“Hn.” Gumam Sasuke stay cool dan berjalan menuju Sakura.
“Sakura—“ Sakura mendongakkan wajah meronanya kehadapan Sasuke yang menyebut namanya.
“—dia adalah kekasihku. Jika kalian berfikir hal negatif padanya tentang dia merayuku atau apa. Itu tidak benar sama sekali. Karena aku yang mencintainya lebih dari apa pun dan tidak ingin kehilangannya, walaupun aku memaksanya sedikit. Jadi jangan menyentuhnya sedikitpun atau kalian akan berhadapn denganku.” Ujar Sasuke panjang lebar menyatakan hubungannya dengan Sakura dan langsung menggandeng tangan Sakura dan membawanya keluar kelas.
Sementara orang-orang yang mendengarnya shock ditempat. By the way, foto itu memperlihatkan Sasuke dan Sakura yang sedang berciuman di sebuah tempat yang hanya Tuhan, Sasuke, dan Sakura yang tahu.

Kalau begitu, siapa yang tidak iri dengan Sakura? Dan mm, siapa bilang tidak ada laki-laki yang iri dengan Sasuke?

December 13, 2014

Fina Sarah Adhari
Ig: finasaadha
Twitter: finasaraha_13
Share
Tweet
Pin
Share
No comment
Older Posts

hai semuanya!

About Me
selamat datang di blognya fina, semoga bermanfaat ya! jangan lupa mampir di sosial mediaku ya~

Social Media

  • Follow on Twitter
  • Like on Facebook
  • Subscribe on Youtube
  • Follow on Instagram


Umrah dan Haji Plus

Umrah & Haji Plus | Arminareka Perdana

Halo teman-teman semua, untuk teman-teman muslim di seluruh Indonesia khususnya yang berdomisili di Provinsi Nusa Tenggara Barat, ya...

Lit This Week

  • My Review to My Dearest Nemesis
      Salah satu on going drama korea yang aku tunggu-tunggu updatenya, ya, My Dearest Nemesis. Drama bergenre romantic comedy yang diperankan a...
  • The Finest Outfit Shopee Recommendation
    Hai semuanya! Melalui post ini aku akan share rekomendasi outfit lucu dan keren setiap harinya yang nanti kamu bisa langsung beli di shopee ...
  • Tentang SNMPTN, SBMPTN, dan PKN STAN
        Halo, saya Fina, disini saya ingin membagikan pengalaman saya tahun lalu saat saya lagi dilema mau ngapain, kuliah dimana, jurusan a...

Categories

Album & Song List Beauty Chit-Chat Competition Design Drama Draw Fanficton Fashion Fiction Foods Freebies Indonesia Islam Japan Kuli-ah Photography Quotes School Travel
Creatifina

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  February 2025 (1)
      • My Review to My Dearest Nemesis
  • ►  2024 (1)
    • ►  March 2024 (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January 2022 (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  July 2020 (4)
    • ►  June 2020 (1)
    • ►  May 2020 (4)
  • ►  2019 (4)
    • ►  December 2019 (1)
    • ►  July 2019 (3)
  • ►  2018 (92)
    • ►  December 2018 (6)
    • ►  November 2018 (2)
    • ►  October 2018 (2)
    • ►  September 2018 (3)
    • ►  August 2018 (5)
    • ►  July 2018 (10)
    • ►  April 2018 (13)
    • ►  March 2018 (15)
    • ►  February 2018 (20)
    • ►  January 2018 (16)
  • ►  2017 (143)
    • ►  December 2017 (13)
    • ►  November 2017 (14)
    • ►  October 2017 (26)
    • ►  September 2017 (31)
    • ►  August 2017 (22)
    • ►  July 2017 (23)
    • ►  June 2017 (13)
    • ►  May 2017 (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  June 2016 (2)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (1)
    • ►  March 2016 (1)
  • ►  2015 (25)
    • ►  July 2015 (1)
    • ►  June 2015 (1)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  February 2015 (3)
    • ►  January 2015 (17)
  • ►  2014 (13)
    • ►  December 2014 (9)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (1)
    • ►  August 2014 (1)
    • ►  May 2014 (1)
  • ►  2013 (5)
    • ►  December 2013 (1)
    • ►  November 2013 (1)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  May 2013 (1)

My Blog List

  • Go Blog
    POSTES 1
  • instagram
  • twitter
  • youtube

Created with by ThemeXpose