Makalah Kompetisi dalam Kebaikan

by - July 30, 2017


BAB 1
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Pesatnya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi modern telah membuka era baru dalam perkembangan budaya, serta cara berfikir umat manusia, yang dikenal dengan era globlisasi. Pada era ini ditandai dengan semakin dekatnya jarak dan hubungan  serta komunikasi antar bangsa dan budaya umat manusia. Dunia tanpak sebagai satu kesatuan  sistem yang saling memiliki ketergantungan antar satu dengan yang lainnya.
Dalam suasana semacam itu tetntunya umat manusia membutuhkan adanya aturan-aturan, nilai-nilai, dan norma-norma serta pedoman dan pegangan hidup yang diterima oleh bangsa. Hal ini aterbentuk saling tolong menolong dalam mewujudkan ahhlak terpuji terutama bagi para remaja dalam pergaulan sehari-hari.
Dalam makalah ini penulis akan membahasa beberapa akhlak terpuji yang harus di lakukan oleh kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari yaitu kreatif, dinamis, sabar dan tawakkal. Dengan sifat-sifat tersebut agar para kaum muslim mampu menghadapi tantangan hidup sesuai tuntunan agama islam.
2.    Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah di atas penulis mengangkat permasalah sebagai berikut :
1.Bagaimana hakikat kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan kreatif ?
2.Bagaimanadampak positif kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan  kreatif?
3.Bagaimana hikmah kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan kreatif ?







BAB II
PEMBAHASAN

A.  KOMPETISI DALAM KEBAIKAN

a.     Pengertian       Kompetisi        dalam  Kebaikan
 Kompetisi Dalam Kebaikan(fastabiq al­khairat)secara secara etimologi berarti berlomba-lomba dalam kebaikan. Anjuran ini tertuju baik bagi laki-laki maupun perempuan. Manusia diperintahkan untuk berlomba dalam berbuat kebajikan, baik kepada manusia atau alam sekitarnya. Misalnya dengan  menolong sesama, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalan, mengikuti olimpiade mata pelajaran tertentu dan sebagainya. Dalam Islam, istilah fastabiq al­khairat merujuk pada firman Allah SWT QS. Al Baqarah: 148 dan QS. Al­Hadid: 21
 







“Dan bagi tiap­tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba­lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al­Baqarah(2) : 148)
 





“Berlomba­lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang­orang yang beriman kepada Allah dan rasul­rasul­Nya. Itulah karunia Allah, diberikan­Nya kepada siapa yang dikehendaki­Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al­Hadid(57): 21)
b.    Makna Kompetisi        dalam  Kebaikan        
Al-Qur’an menggugah agar umat Islam tidak menjadi umat yang  santai melainkan menjadi umat pionir dalam segala kebaikan. Oleh karena itu ketika seseorang mengaku sebagai hamba Allah, maka  di saat yang bersamaan ia segera bergerak melakukan segala kebaikan yang tak terhingga luasnya. Islam memberi motivasi kepada pemeluknya untuk mengedepankan berbuat kebaikan dengan penuh antusias disebabkan antara lain:

1)    Melakukan dan menyebarkan kebaikan adalah tugas pokok setiap insan. Tanpa kebaikan Allah, maka manusia di muka bumi ini bisa dipastikan telah musnah sejak ratusan tahun yang silam. Kata fastabiqu  memberi kesan perintah berlomba-lomba agar tidak didahulukan oleh orang lain. Oleh karena itu ia harus bergerak cepat dan bersegera untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam perlombaan ada tenaga ekstra yang digunakan, segala kemampuan dikerahkan sehingga cita-cita yang diinginkan bisa diraih. Nabi saw bersabda : “Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal­amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (H.R. Muslim)

2)     Usia manusia terbatas. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia akan meninggal dunia. Oleh karena itu seorang hamba Allah agar segera melakukan kebaikan. Jika ia tidak melaksanakannnya, maka ia akan menjadi orang yang paling sengsara dan hal tersebut tidak hanya terjadi di dunia saja melainkan juga akhirat. Allah Swt berfirman,



 “Tiap­tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya” (QS. Al­A’raf(7): 34).  Agama Islam mempunyai keistimewaan yang menonjol yaitu  menyeru kepada perlombaan (berlomba-lomba berbuat kebaikan).  Dalam al-Qur’an dianjurkan seseorang melakukan kebaikan dan kemudian berlomba dalam kebaikan-kebaikan tersebut serta berupaya agar satu dengan yang lainnya menyusul. Di sini Allah menggunakan kata perlombaan yang di dalamnya kendati tidak didapatkan arti  kata cepat dan segera. Sebab, dari segi etimologi andaikata dua orang  berjalan lambat sekalipun, tetapi satu dengan yang lain saling mendahului, maka mereka telah melakukan perlombaan. Oleh karena itu   di sini terdapat perintah bagi setiap orang untuk  berlomba. Kini jika seorang dengan upayanya dia  menyusul, maka untuk yang lainpun terdapat juga perintah bahwa diapun juga harus menyusul ke depan. ِ
 “Sesungguhnya orang­orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah sebaik­baik makhluk”. (QS. Al Bayyinah(98):7) Manusia diperintahkan untuk berlomba dalam berbuat kebajikan terhadap manusia dan alam sekitarnya.
c.        Ciri-ciri  pelaku        kompetisi         dalam  kebaikan

1. Memiliki           niat      yang    ikhlas Niat yang ikhlas merupakan faktor penting dalam setiap amal. Di dalam Islam ikhlas merupakan rukun amal yang pertama dan terpenting. Niat yang ikhlas karena Allah dalam melakukan kebaikan akan membuat seseorang memiliki perasaan yang ringan dalam mengerjakan amal-amal yang berat sekalipun, apalagi bila amal kebaikan itu tergolong amal shalih yang ringan. Sedangkan tanpa keikhlasan, jangankan amal yang berat, amal yang ringan pun akan terasa berat. Di samping itu, keikhlasan akan membuat seseorang berkesinambungan dalam melakukan amal kebaikan. Orang yang ikhlas tidak akan bertambah semangat hanya karena dipuji dan tidak akan melemah karena dicela. Adanya pujian atau celaan tidak akan mempengaruhi semangatnya dalam melakukan kebaikan.

2. Cinta    kepada kebaikan          dan      cinta    kepada orang   yang    berbuat            baik Seseorang akan antusias melaksanakan kebaikan manakala pada dirinya terdapat rasa cinta pada kebaikan. Karena tidak  mungkin seseorang melakukan suatu kebaikan apabila dia sendiri tidak suka pada kebaikan itu. Oleh karena itu, rasa cinta pada kebaikan harus kita tanamkan ke dalam jiwa sehingga kita menjadikan setiap bentuk kebaikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Di samping cinta kepada kebaikan, maka harus tertanam juga di dalam jiwa rasa cinta kepada siapa saja yang berbuat baik. Hal ini akan membuat kita ingin selalu meneladani dan mengikuti segala bentuk kebaikan, siapa pun yang melakukannya. Allah SWT telah menyebutkan kecintaan-Nya kepada siapa saja yang berbuat baik.  Allah berfirman
 






“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang­orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah (2) : 195)
3.  Merasa beruntung       bila melakukan suatu  kebaikan. Berbuat baik merupakan sesuatu yang sangat mulia dan seseorang akan bersemangat melakukan kebaikan apabila dengan kebaikan itu dia merasa yakin memperoleh keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Ada banyak keuntungan yang akan diperoleh manusia bila ia berbuat baik.
4. Merasa rugi bila meninggalkan            suatu    kebaikan Apabila seseorang merasa beruntung dengan kebaikan yang dilakukannya karena sejumlah keutamaan yang disebutkan dalam al-Qur’an, maka ia akan merasa sangat merugi apabila meninggalkannya. Bagi seorang mukmin, bagaimana mungkin dia tidak merasa rugi bila tidak melakukan kebaikan, karena kehidupan ini memang harus dijalani untuk mengabdi kepada Allah SWT yang merupakan puncak dari segala bentuk kebaikan yang harus dijalani.
5. Meneladani Generasi yang       Baik Perbuatan akan menjadi lebih baik apabila seseorang mau menjadi teladan bagi orang lain dalam berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian ia menyadari bahwa meskipun ia merasa sudah banyak perbuatan baik tetapi tetap saja ia merasa masih sedikit dalam melakukan kebaikan dibandingkan  dengan orang lain.


d.    Balasan pelaku kompetisi dalam kebaikan
1)    Selalu bersama Allah SWT Allah Swt berfirman:


“Sesungguhnya Allah beserta orang­orang yang bertakwa dan orang­orang yang berbuat  kebaikan”.( QS. Al­Nahl(16): 128)
2)    Menambah      kenikmatan      Allah Swt berfirman:

“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya­Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar”.( QS. Al­Ahzab (33) : 29)
3)    Dicintai Allah Allah Swt berfirman: ُّ

 “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang­orang yang berbuat kebajikan”.( QS. Ali Imran (3) : 134
4)    e. Memperoleh pahala     Allah Swt berfirman
“Sesungguhnya Allah tidak menyia­nyiakan pahala orang­orang yang berbuat baik (QS. Al Taubah (9) : 120)

e. Hikmah perilaku kompetisi      dalam  kebaikan
Berkompetisi dalam kebaikan memiliki beberapa hikmah yang dapat diambil dalam kehidupan sehari-hari. Di antara hikmah berperilaku kompetisi dalam kebaikan adalah  
1)    Melakukan kebaikan yang telah ditentukan.
2)     Melakukan persaingan dalam melakukan kebaikan sesuai dengan situasi dan kondisi. Karena kemampuan tiap muslim beragam dalam hal tingkat pendidikan, ekonomi dan statusnya dalam masyarakat.
3)     Melakukan mmal shalih yang didasari oleh beriman kepada Allah Swt dan dilakukan dengan tekad yang teguh.

B. OPTIMIS
 1.Pengertian optimis
Dari sisi etimologi optimis berasal dari bahasa latin optima yang berarti terbaik. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia optimis adalah orang yang selalu berpengharapan dalam menghadapi segala hal. Optimis merupakan perasaan yakin terhadap sesuatu yang baik yang kelak akan terjadi yang memberi harapan positif serta menjadi pendorong untuk berusaha ke arah kemajuan atau kejayaan. Optimis merupakan keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam Islam. Misalnya siswa/siswi yang mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru pastia ia berharap akan lulus dan diterima di perguruan tinggi yang ia pilih. Dengan sikap optimis seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan dunia maupun dalam menghadapi kehidupan akhirat. Allah berfirman: َ
 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang­orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang­orang yang beriman”.( QS. Ali Imran(3): 139)
Kebalikan dari sikap optimis adalah sifat pesimis. Sifat pesimis dapat diartikan berprasangka buruk terhadap Allah SWT. Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencoba.
2.Nilai positif optimis
a.  Berpengharapan          baik     kepada Allah Optimisme dalam konsep Islam menuntut agar seorang muslim terus berusaha dan dalam usahanya tidak lupa kepada Tuhannya karena pada dasarnya setiap hasil usaha atau ikhtiar manusia itu berada di tangan Allah SWT.  Allah Swt berfirman:  ْ
 



“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka­sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap­tiap sesuatu”.(QS. Al­Thalaq(65):3) Seorang muslim tidak boleh tiba-tiba memiliki sifat qanaah(menerima apa adanya dengan ikhlas) sebelum ia melakukan tiga hal, yaitu berusaha secara maksimal, telah mendapatkan sesuatu dari usahanya yang maksimal tersebut serta menerima dengan lapang dada apa yang telah diperolehnya tersebut.  
b.  Berfikir            positif Bagi orang senantiasa optimis, maka cara berfikirnya pasti  senantiasa positif. Ia akan berfikir positif dalam segala hal. Dengan pikiran positifnya itu akan terbentuk energi positif. Energi positif inilah yang akan membakar semangat juang untuk mewujudkan harapannya. Berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan kehidupan kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam syakwasangka dan apriori terhadap orang lain. Hati yang berseri-seri hanyalah hati yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain dan memandang segala perintah Allah memiliki hikmah “Kamu sekali­kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”.(QS. Ali Imran(3): 92)
135
c.  Percaya            diri,      berani  dan      bertanggung    jawab Rasa percaya diri yang besar dan berani dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan tidak gentar mempertahankan kebenaran merupakan  salah satu sifat yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada setiap manusia. Berani merupakan satu kekuatan tersembunyi yang ada di dalam diri setiap manusia khususnya dalam menghadapi cobaan dan masalah kehidupan. Keberanian yang di tuntut di sini ialah keberanian pemikiran dan keberanian moral yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.




“Sesungguhnya orang­orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat(41): 30)
3.Hikmah perilaku optimis
Hikmah berperilaku optimis di antaranya adalah :
a. Membawa  seseorang pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri.
b. Berfikir positif yang akan memberikan dorongan sikap dan tingkah laku yang positif pula.
 c.  Memiliki kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan. Hal ini sangat di anjurkan dalam agama dan sangat penting sekali agar seseorang dapat terus bertindak menghadapi tantangan.

C. DINAMIS
1. Pengertian dinamis
Kata dinamis berasal dari kata dynamic yang berarti bergerak. Dalam bahasa Belanda dynamisch berarti giat bekerja, tidak mau tinggal diam, selalu bergerak dan terus tumbuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  dinamis berarti penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Misalnya, seorang yang ingin merubah pribadinya menjadi orang yang berilmu pengetahuan karena keutamaan dan derajatnya di sisi Allah. Dalam hal ini dengan sendirinya ia akan belajar secara serius untuk mencapai tingkat pendidikan yang tertinggi walaupun keadaan ekonomi keluarganya sangat minim. Seseorang yang berjiwa dinamis tidak akan diam berpangku tangan. Ia akan terus berusaha secara sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah yang lebih baik dan lebih maju.
2. Nilai positif dinamis
 a. Berfikir progresif
 Berfikiir progresif berarti berfikir maju. Seorang yang berfikir progresif akan menjadikan al-Quran dan hadits sebagai pijakan dirinya demi  kebaikan di masa kini dan akan datang. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:
“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al­Quran? kalau kiranya Al­Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(QS. Al­Nisa’(4) : 82)

 Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan­kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan­kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hambanya selama hambanya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga.
b. Menyesuaikan dengan pilihan terbaik dalam perkembangan   zaman Ajaran Islam hadir bersifat dinamis bukan statis. Oleh karena itu Islam menuntut pemeluknya untuk menampilkan  aneka aktifitas yang dapat menjawab persoalan yang muncul. Alternatif-alternatif jawaban persoalan pada tiap  perkembangan zaman haruslah alternatif yang terbaik sehingga eksistensi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tetap terjaga. Seorang yang bersikap dinamis akan berusaha untuk turut mewarnai perkembangan zaman dengan tampil sebagai teladan kebaikan di lingkungan tempat yang bersangkutan tinggal. َُ
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya.(QS. Al­Ra’d(13) : 11)
c. Berpikir futuristik
Seseorang yang memiliki semangat tinggi dan penuh energi selalu bergairah untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik dan memiliki kekuatan jiwa serta kemauan untuk menghadapi tantangan kesulitan yang dihadapi. Pribadi seperti ini disebut dengan pribadi yang dinamis. Pribadi dinamis adalah pribadi yang aktif yang selalu memiliki rasa optimisme yang tinggi di dalam mencapai sesuatu yang dicita-citakan.
 “Dan orang­orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar­ benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan­jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar­ benar beserta orang­orang yang berbuat baik”.(QS. Al Ankabut(29): 69)
 d. Teguh dalam menerima cobaan
 Ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT.  Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi- tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut. Dan bagi seorang yang besikap dinamis ujian dan cobaan tersebut merupakan sarana untuk meningkatkan derajat sebagai seorang yang berpredikat sebagai hamba yang tahan uji. Terdapat hadits dari Anas bin Malik sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: َ”Sesungguhnya kesabaran itu terjadi pada saat awal benturan (musibah)” (HR. Bukhari­  Muslim)

3.  Hikmah perilaku dinamis
Hikmah membiasakan berperilaku dinamis dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah :
a. Dinamis adalah sikap penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.
 b. Orang yang dinamis akan terus berkembang, berpikir, cerdas, dan berkreasi, serta selalu beradaptasi dengan lingkungan.
c. Orang yang dinamis tidak mudah putus asa dengan prestasi-prestasi yang telah dicapai dan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri.
d. Orang yang dinamis akan bekerja keras dalam melakukan usaha, baik yang berhubungan dengan aspek duniawi maupun ukhrawi.

D. INOVATIF
1. Pengertian inovatif
Kata inovatif  berasal dari bahasa Inggis innovate yang artinya memperkenalkan sesuatu yang baru. Sedangkan innovatif berarti bersifat memperbarui. Dengan demikian kata inovatif   berarti bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru. Pengertian baru di sini adalah sesuatu yang belum dapat diterima secara luas oleh seluruh warga masyarakat menyangkut sikap (attitude) dan belum diterima dan diterapkan oleh seluruh warga masyarakat setempat. Inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovatif dapat berarti juga temuan baru yang menyebabkan berdayagunanya produk atau jasa ke arah yang lebih produktif dan mempunyai nilai manfaat bagi masyarakat. Misalnya dalam dunia perbankan aplikasi bank syariah di Indonesia baru dikembangkan pada dekade awal tahun 1990-an sebagai inovasi dari penerapan bank konvensional. Bank syariah lebih mengembangkan ajaran muamalah dalam tradisi syariah Islam yakni adanya akad bagi hasil dalam pengelolaan hasil pada satu sisi dan sama-sama menanggung resiko kerugian pada sisi yang lain. Sedangkan bank konvensional lebih berorientasi profit sehingga rentan dengan masalah suku bunga atau riba. Dalam dunia pendidikan pembelajaran inovatif adalah suatu proses pemeblajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga berbeda dengan pemebelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru konvensional.. Manusia adalah mahluk pilihan Tuhan yang memiliki potensi dan kemampuan yang begitu besar. Kekuatan nalar manusia merupakan salah satu keistimewaan yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya karena dengan kekuatan nalarnya itu ia bisa menemukan dan menciptakan hal-hal baru serta memperbaiki taraf hidupnya. Sejatinya, jika manusia memanfaatkan akal dan pengalamannya secara maksimal dan pantang menyerah, niscaya ia mampu meraih kemajuan yang menakjubkan. Dalam kondisi semacam itu, kekuatan inovasi dan kreatifitas memiliki andil yang strategis dalam mengubah kualitas hidup dan mewujudkan masyarakat yang baik. Allah Swt berfirman
“ Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada­Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS. Al­Jatsiyah(45): 13)

2.  Nilai    positif  inovatif           
a. Berfikir ilmiah, obyektif,cerdas dan    kritis
Kegiatan berfikir yang teratur dan sistematis menghasilkan  pengetahuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Berbagai macam problem, mendorong kita untuk berfikir lebih mendalam dan sistematis dengan mengunakan metode ilmiah tertentu untuk memecahkanya. Seorang yang bersikap inovatif akan mengerahkan segala kemampuan nalarnya untuk menemukan beberapa hal baru yang lebih baik dan bermanfaat dari temuan-temuan yang telah ada. Allah Swt berfirman
 “Dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya Makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan?”(QS. Al­Sajdah(32) : 27)
b.Melakukan        perbaikan        
Untuk mencapai kemajuan harus diusahakan dengan ikhtiar yang maksimal. Perubahan kondisi manusia merupakan sunnatullah yang letak keberhasilannya tergantung pada usaha manusia. Allah SWT memberikan respon tentang perubahan ini yang dimulai dari perubahan diri manusia itu sendiri, baik kondisi manusia secara individual, maupun di masyarakat.   Perubahan kondisi baik dan buruk ini terkait dengan ketaatan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia kepada Allah SWT. Di sini manusia akan bersikap inovatif dalam melakukan perbaikan-perbaikan. Allah swt berfirman: َّ



 “ (Siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali­kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan­Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa­apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Al­Anfal(8): 53)
Dalam suatu hadits  dari Khalid bin walid dan  Abu Bakar berkata: Sesungguhnya kami mendengar Rasulullah Saw bersabdaإ “Jika manusia melihat orang zhalim lalu mereka tidak menahannya, maka tak lama lagi Allah akan menjatuhkan hukuman yang meliputi mereka semua”. (HR. Abu Daud)
c.  Penerapan        prinsip amar    ma’ruf nahi     mungkar
Dalam menerapkan prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar, Pelaku sikap inovatif mengharuskan diri untuk bersikap lembut, santun, lapang dada, sabar, menyayangi, bersahabat, bersungguh-sungguh dan rela berkorban. Penerapan prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar akan tetap mempertimbangkan nilai-nilai dan budaya masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama. Sedangkan untuk mengaplikasikan prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar, berikut petunjuk Nabi SAW dalam sabdanya,  “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Sekiranya ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Sekiranya ia tidak mampu (juga) maka dengan hatinya, dan itulah selemah­lemahnysa iman”.  (HR. Muslim).
d.Berorientasi       kemanfaatan    dan      kemaslahatan
 Segala ciptaan Allah Swt mengandung maksud dan tujuan. Perintah memakmur- kan alam berarti perintah untuk menjadikan alam semesta sebagai media mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di muka bumi. Sikap pelaku inovatif dengan potensi akalnya akan menjadikan realitas kealaman sebagai kemaslahatan bagi manusia. Dalam hal ini Allah Swt berfirman: 
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (QS. Shad: 27)

3.    Hikmah perilaku inovatif
Membiasakan berperilaku inovatif melahirkan hikmah dalam kehidupan sehari-hari di antaranya :
a. Dapat mendayagunakan kemampuan dan keahlian dalam melakukan ataupun mengembangkan karya tertentu.
b. Dapat melakukan kebaikan dan menghindari keburukan.

E. KREATIF
1.Pengertian         kreatif
Kreatif berasal dari bahasa inggris to create yang berarti menciptakan sesuatu atau membuat. Creativity  berarti daya cipta. Sedangkan dalam bahasa Arab kata kreativitas atau menciptakan biasanya mengunakan kata  khalaqa  (menjadikan, membuat,  menciptakan), yakni  menciptakan sesuatu tanpa ada pangkal atau asal dan contoh terlebih dahulu atau dapat berarti kemampuan untuk mencipta atau mempunyai sifat menciptakan tidak dengan cara meniru. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kreatif  berarti memiliki daya cipta atau memiliki kemampuan untuk menciptakan. kreatif adalah menemukan, menggabungkan, membangun, mengarang, mendesain, merancang, mengubah ataupun menambah. Oleh karena itu kreatif sering digambarkan dengan kemampuan berfikir kritis dan banyak ide serta gagasan. Orang kreatif adalah orang yang melihat sesuatu yang sama, tetapi dengan cara pandang yang berbeda. Selain itu orang kreatif adalah orang yang memiliki kemampuan menggabungkan sesuatu yang belum pernah tergabung sebelumnya. Kreatif juga bisa berarti kemampuan menemukan atau mendapatkan ide dan pemecahan masalah baru. Dalam perspektif Islam kreatif dapat diartikan sebagai kesadaran keimanan seseorang, untuk menggunakan keseluruhan daya dan kemampuan diri yang dimiliki sebagai wujud syukur akan nikmat Allah guna menjadikan atau menghasilkan sesuatu yang terbaik dan bermanfat bagi kehidupan sebagai wujud pengabdian yang tulus kehadirat Allah. Allah Dzat yang Maha kreatif, hasil karya-Nya merupakan karya yang sangat besar, indah, dan sempurna. Semua makhluk memanfaatkan karya Allah tersebut. Allah Pencipta jagat raya dan segala isinya memberikan kekaguman dahsyat bagi seluruh makhlukNya. Keserasian yang kita lihat pada setiap makhluk, keterpautan organ-organ tubuh satu sama lainnya, keterpautan warna dengan organ-organ tersebut,  keterpautan langit dan jagat raya, bumi dan isinya tersebut menjadikan   Allah Swt sebagai Dzat Yang Maha Sempurna.. Allah Swt berfirman:

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang, Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka”.(QS. al­An’am(6):1)

2.  Nilai    positif  kreatif
a.Berfikir orisinil
Manusia selalu menghadapi berbagai persoalan dan peristiwa dalam kehidupannya. Semua persoalan yang yang tidak diketahui jawabannya dianggap sebagai masalah. Biasanya seseorang akan berusaha mengkaji problem yang dihadapinya dari berbagai aspek agar dapat memahaminya dengan baik. Setelah itu ia menghimpun berbagai data dan informasi yang berkaitan dengannya. Penghimpunan data dan informasi yang relevan dengan problem yang ada membantunya memperjelas, memahami dan membatasi problem itu dengan teliti dan mengantarkannya menyusun berbagai hipotesa sebagai langkah pemecahan.
Dalam hal ini Allah Swt berfirman: َ
 “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al­Hajj : 46)
b.  Beretos kerja   tinggi
Adanya etos kerja yang kuat memerlukan kesadaran pada orang bersangkutan tentang kaitan bekerja dengan pandangan hidupnya yang lebih menyeluruh. Etos kerja dalam Islam adalah hasil suatu kepercayaan seorang Muslim bahwa bekerja mempunyai kaitan dengan tujuan hidupnya, yaitu memperoleh ridha dari Allah SWT. Berkaitan dengan ini penting untuk ditegaskan bahwa pada dasarnya, Islam adalah agama amal atau kerja. Inti ajarannya ialah bahwa hamba Alalh akan mendekati dan berusaha memperoleh ridha Allah melalui bekerja atau amal shalih serta dengan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya. Alalh Swt berfirman:  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”. (QS. Al­Najm(53) : 39­40) َ
c. Berhasil karya  
Dalam Islam beramal atau bekerja itu juga harus dilakukan dalam bentuk shalih sehingga dikatakan amal shalih, yang secara harfiah berarti sesuai, yaitu sesuai dengan standar mutu. Berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik sebagaimana dapat dipahami dari firman Allah, 
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Q.S. Al­ Mulk(67): 2)
d. Tawakkal
 Tawakal tidak identik dengan kepasrahan yang tidak beralasan. Namun tawakal harus terlebih dahulu didahului dengan adanya usaha yang maksimal. Muslim yang kreatif akan menunjukkan dedikasinya dengan berusaha maksimal untuk memperoleh tujuan yang diinginkan untuk kemudian menyandarkan hasil kepada Allah Swt. Allah Swt Berfirman:َ

“kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang­orang yang bertawakkal kepada­Nya”. (QS.Ali Imran (3): 159)

3. Hikmah kreatif
Hikmah membiasakan berperilaku kreatif dalam kehidupan sehari-hari akan menjadikan :
a. Setiap pribadi dapat mencipta, termasuk menciptakan realitas baru dalam kehidupan sehingga dalam situasi apapun dan dengan segala keterbatasan akan memiliki potensi untuk menciptakan berbagai hal, termasuk keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup ini.
b. Setiap pribadi memiliki keterikatan kepada Allah SWT yang menjadi tempat bergantung dan tempat berharap satu-satunya.
 c. Setiap pribadi mempunyai etos kerja, yakni seperangkat  nilai-nilai etis  yang terkandung dalam ajaran Islam (Al-Quran dan hadits) tentang keharusan dan keutamaan bekerja untuk mencapai hasil yang diharapkan lebih baik.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sifat kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan kreatif sangatlah penting untuk dilakukan setiap manusia yang hidup di dunia ini. Dalam Islammpun sangat menganjurkan kepadanya umatnya untuk bersifat kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan kreatif agar bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Dalam menjalankan sifat tersebut tidaklah mudah harus ada latihan dan dorongan dari dalam diri kita masing-masing, meskipun untuk sifat kreatif juga kadang dipengaruhi dari faktor gen atau bawaan dari lahir, namun pengaruh dari lingkungan juga sangat menentukan kekreatifan seseorang. Yang kemudian kekreatifan seseorang akan memunculkan sifat inovatif. Sedangkan dinamis menurut penulis lebih bersifat dorongan seseorang untuk bersikap lebih baik dengan apa yang ditekuninya, dan sifat dinamis bisa dibentuk mulai dari masa kanak-kanak.
Dan pokok dari sifat-sifat tersebut adalah adanya sifat kompetisi dalam kebaikan yang mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan sehingga muncullah sifat-sifat tersebut.
Apabila orang yang tidak mempunyai sifat kompetisi dalam kebaikan, optimis, dinamis, inovativ, dan kreatif maka orang tersebut akan mengalami kesulitan dalam hidupnya karena sifat tersebut sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang tidak sabar dan tawakkal dia akan merasa setiap cobaan yang diberikan oleh Allah adalah akhir dari segalanya ia akan selalu menyalahkan Allah bahkan dia juga akan murtad atau kafir karena tidak kuasa menghadapi cobaan maupun nikmat yang diberikan Allah.
B.   SARAN
Semoga apa yang kami tampilkan dapat di ambil manfaat dan hikmahnya serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.



DAFTAR PUSTAKA
Buku Kurikulum 2013 Kementrian Agama Akidah Akhlak kelas XII
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dapat didownload disini

Cara download:
1. Klik tulisan 'disini' di atas
2. Silang laman yang tidak perlu, tunggu loading sebentar
3. Tekan 'Skip Ad'
4. Download file drive di tanda unduh (panah ke bawah ↓) di pojok kanan atas laman google drive
5. Selesai, tinggal cek di folder download

❤❤❤ 
With Love,
Fina Sarah Adhari

Twitter: finasaraha_13

You May Also Like

0 comment

What do you think about this post?